Kamis, 23 September 2010

GANNYANG MALAYSIA TAK TERDENGAR Pidato Presiden seperti Jubir Malaysia? INI SUNGGUH LUCU

KERINCI:

RADAR JAMBI BY : Toni samrianto

Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle Syahganda Nainggolan menilai, pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Rabu (1/9/2010) malam, terkait krisis hubungan Indonesia-Malaysia akhir-akhir ini, tidak menunjukkan sikap tegas seorang pemimpin yang memahami kehendak rakyat.

"Pidato SBY selayaknya juru bicara Malaysia yang telah melukai perasaan seluruh rakyat, yang selama ini banyak dinistakan oleh pihak Malaysia, baik dengan gangguan kedaulatan ataupun merendahkan kemanusiaan bangsa kita," ujar Syahganda di Jakarta, Kamis (2/9/2010).

Menurutnya, pidato SBY tersebut hanya berupa permainan kata-kata yang bersifat semu dan tanpa makna kemartabatan untuk bangsa maupun negara. Pidato itu juga dapat diartikan memuji-muji Malaysia yang sebenarnya menganggap remeh Indonesia.

"Sama sekali tidak membela kepentingan nasional yang sering dirugikan oleh sikap arogan Malaysia, di samping tidak merasa terganggu karena rakyatnya suka dilecehkan Malaysia berulang-ulang," kata Syahganda, yang mengaku sangat kecewa dengan pidato SBY itu, sekaligus menyayangkan SBY tidak tampil sebagai pemimpin dari sebuah negara dan bangsa besar yang tengah digangggu oleh negara kecil.

Seharusnya SBY memanfaatkan momentum pidatonya untuk meraih simpati rakyat seluas-luasnya, bukan malah melemahkan kepercayaan rakyat dengan berpidato yang tidak memperkukuh nilai-nilai kedaulatan bangsa.

Syahganda berpendapat, pidato SBY memang cenderung menjadi juru bicara Malaysia tanpa merasa perlu mengkritik atau menyampaikan ultimatum kepada Malaysia agar tidak mempermainkan bangsa dan negara Indonesia. "Dengan gaya pidato selemah itu, rakyat jelas tidak perlu berharap Presiden SBY akan bisa keras menghadapi negara pengganggu, apalagi mengajak perang pihak yang melawan kedaulatan negara," ujarnya.

Syahganda juga heran mengapa dalam mengupayakan penyelesaian diplomatik dengan Malaysia, SBY seperti kurang percaya diri serta hanya berkeinginan melaksanakan diplomasi prosedural. "Bukan diplomasi bermartabat yang dikerahkan secara luar biasa, sehingga bangsa kita tidak lagi direndahkan Malaysia," katanya.

Ditambahkan, tidak ada jaminan dengan pidato SBY tersebut Malaysia akan berhenti mengganggu dan merendahkan kedaulatan bangsa Indonesia. Malaysia justru akan melihat Indonesia negara yang penurut dan takut apabila diancam. "Jadi di mata Malaysia kita ini cuma sekelas negara tempe," ujarnya.

Link ke posting ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar